Jumat, 07 Desember 2012

ALUR YANG BETUL 
MENGAJARKAN MATERI
MENENTUKAN GAGASAN UTAMA DAN MEMBUAT RINGKASAN



GAGASAN UTAMA adalah ide pokok atau ide utama dari sebuah paragraf.

Senin, 05 November 2012

MENCONGAK UNTUK MENGUATKAN PONDASI MATEMATIKA SISWA


Metode JADUL nan USANG
tetapi HANDAL untuk Melatih Kemampuan Dasar Matematika Siswa


          Metode mencongak. Membicarakan metode ini, mengingatkan kita pada masa jadul, masa kala kita masih duduk dibangku sekolah dasar. Selain itu, mencongak juga erat sekali dengan pelajaran matematika, kedua nya bak aur dengan tebing,  di mana keberadaanya keduanya seperti tidak terpisahkan, ada matematika pasti mencongak dan mencongak pasti matematika.  Memang  dulu, metode ini tidak pernah digunakan pada mata pelajaran lain selain pada matematika.
        Salah satu model pembelajaran yang mengadaptasi atau menerapkan metode mencongak adalah Model CRH (Course Riview Horey). Mencongak dalam model CRH dibuat lebih menyenangkan dan inovatif (dalam bentuk permainan), selain itu CRH juga bisa diaplikasikan untuk semua mata pelajaran, tidak hanya matematika. Pada pelajaran lain (selain matematika) model ini tetap dengan mengutamakan ingatan siswa terhadap materi pelajaran yang telah dipelajari tetapi tidak atau tanpa proses menghitung dan siswa cukup menuliskan jawabannya saja.

Kembali berbicara tentang mencongak.

         Mencongak adalah metode menghitung di luar kepala, dengan ingatan saja dan siswa cukup menuliskan hasilnya. Siswa harus menjawab setiap pertanyaanya yang dibacakan oleh gurudengan waktu yang singkat. Dengan pelaksanaan yang kontinu (berkesinambungan, terus-menerus, dan berkelanjutan) di setiap pelajaran matematika, maka hasil yang diharapkan adalah siswa akan lebih mudah mengingat tentang perkalian dan lebih cepat dalam menghitung matematika. tidak sekedar ingat dan hafal, tetapi dapat melekat yang sangat rekat dipikiran siswa, karena terbiasa. Selain itu, Perkembangan lain yang diharapkan adalah siswa tidak perlu membuka lagi tabel perkalian mereka, tidak tergantung pada kalkulator, ataupun menggunakan jarimatika. Tentunya semua itu, tidak dapat tercapai dalam waktu sekejab. Pada awal pelaksanaan mungkin hasil yang dicapai masih belum memuaskan , tetapi yang penting dari pelaksaan mencongak yang rutin adalah proses dan pengalaman belajar yang didapat siswa. Selain itu untuk pengajar, hasil atau nilai yang didapat siswa dapat menjadi acuan untuk mengetahui kemajuan keterampilan berhitung siswa, juga untuk menentukan bimbingan khusus kepada siswa-siswa yang masih lemah kemampuan hitungnya. Mengingat Karakteristik siswa di dalam kelas yang beranekaragam baik gaya belajar dan kemampuannya.  
        Untuk menerapkan metode ini, kita cukup meluangkan waktu 15 menit saja tiap pertemuannya dan pelaksanaannya bisa di awal ataupun diakhir pelajaran. Jumlah soal cukup 10 soal, dengan sebaran  5 soal perkalian dan 5 soal berikutnya adalah pembagian atau dengan pilihan seragam perkalian sederhana 10 soal, dan pertemuan berikutnya 10 soal pembagian sederhana (sesuaikan dengan operasi hitung yang sedang dipelajari di kelas). Manakala sebagian besar siswa kita sudah menguasai perkalian dengan angka-angka sederhana, kita dapat meningkatkan level soal yang kita berikan. Semisal semula, bilangan yang kita pakai adalah satuan dengan satuan, maka kita bisa tingkatkan dengan bilangan satuan dengan puluhan, atau menggunakan operasi hitung campuran dengan menggabungkan perkalian - pengurangan, perkalian - penjumlahan, atau operasi hitung lainnya yang bisa dicoba.

     
Mengapa mencongak begitu penting untuk diterapkan lagi?

        Operasi hitung Penjumlahan, Pengurangan, Perkalian dan Pembagian (4P), adalah dasar matematika dan syarat awal yang harus dan wajib dikuasai siswa. Seperti sebuah rumah, 4P adalah pondasi nya.  Pondasi ini haruslah kuat karena dapat menopang dan menunjang bangunan yang dibangun diatasnya. siswa dapat membangun pengetahuan dan keterampilan matematikanya setinggi mungkin diatas pondasi 4P yang kuat.

        Kita ketahui, tingkat kesulitan atau level materi matematika di setiap kelas selalu berkembang, ini adalah sebuah tantangan (tingkat kesulitan dan cara menghitungnya pun lebih rumit).Oleh karena itu, siswa harus betul-betul menguasai dasarnya. Penguasaan yang tidak maksimal dapat menjadikan kendala bagi siswa dalam mengikuti pelajaran dan saat mengerjakan soal matematika.Matematika bukan hanya pelajaran yang ada di jenjang sekolah dasar, tetapi juga akan ditemui siswa di jenjang sekolah berikutnya seperti SMP dan SMA.

MARI-MARI KITA LATIH KEMAMPUAN MATEMATIKA SISWA KITA
DENGAN METODE INI (MENCONGAK) ATAU METODE INOVATIF LAINNYA
INGAT-INGAT BUAT FUN DAN SENANG SISWA KITA
MELALUI PERMAINAN SEPERTI DI CR HA
MARI BUAT SISWA TIDAK BENCI MATEMATIKA
MARI BUAT SISWA SUKA DENGAN MATEMATIKA
KARENA SUKA SISWA AKAN BISAAAAAAAAAA

      Bila kita menjumpai siswa-siswa kita yang sedang duduk di kelas tinggi tetapi mereka masih kesulitan dengan operasi hitung, sungguh ini mencengangkan. Tidak perlu SALING MENYALAHKAN, apalagi MENOLEH JAUH ke belakang, KARENA ITU SEMUA TIDAK MENYELESAIKAN. Mari berpikir ke depan, dan menjalin kerjasama dengan guru-guru kelas untuk saling memberdayakan mencongak di kelas masing-masing di setiap pelajaran matematika.Metode mengajar lama, dan kita tidak perlu enggan menerapkannya.USANG TETAPI HANDAL.

SAYA SUDAH MEMBUKTIKAN!!!! walaupun tidak dikelas tetapi di bimbingan belajar.


sekian berbagi pengalaman ku dalam mengajar. kritik dan saran silahkan diberikan. selamat mencoba dan semoga bermanfaat.











Minggu, 01 Juli 2012

Melatih Keterampilan Berbicara Siswa Melalui Kartu Gambar Berpasangan

"sumber gambar - milis-bicara.blogspot.com"
      Berbicara merupakan kegiatan menyampaikan maksud (ide, pikiran, isi hati) kepada orang lain dengan bahasa lisan. Berlatih menggunakan bahasa lisan atau berbicara berarti berlatih mengorganisasikan ide, pikiran, isi hati dengan baik dan sistematis secara lisan. Melatihkan keterampilan berbicara pada siswa merupakan tugas guru di sekolah. Siswa mempunyai ide, mempunyai pengetahuan, dan  pembendaharaan kata yang luas, tetapi bila guru tidak pernah melatihkan kepada siswanya untuk menyampaikan secara lisan maka keterampilan berbahasa tidak dikuasai.

   " Lantas, bagaimana cara kita sebagai pendidik untuk melatihkan keterampilan berbicara kepada peserta didik kita?"


    Tertunya banyak cara dan metodenya.Apalagi tantangan buat kita adalah kita harus membuat seluruh siswa di dalam kelas antusias dan berani berbicara. Tak terkecuali siswa-siswa yang pasif atau sedikit berbicaranya.
    Banyak materi pelajaran yang dapat kita gunakan untuk memaksimalkan melatihkan keterampilan berbicara siswa, seperti deklamasi, pidato, bercerita tentang pengalaman pribadi, dll. Pengalaman yang akan saya bagikan adalah pengalaman ketika mengajarkan pelajaran bahasa Indonesia dengan materi "Memberikan Tangagapan Terhadap Sesuatu Peristiwa." Pada pembelajaran tersebut saya menggunakan model pembelajaran Think Pair and Share (TPS) dengan menggunakan kartu bergambar.
 
    "Kenapa TPS?"  Karena model TPS menggunakan 3 tahapan pembelajaran yaitu tahap berpikir (thingking), tahap berpasangan (pairing), dan tahap berbagi (sharing). pada tahap pertama siswa disediakan waktu untuk memikirkan sendiri jawaban, lalu siswa diminta berpasangan untuk saling mendiskusikan pemikiran mereka pada tahap pertama, tahap tiga  siswa dengan pasangannya berbagi atau menyampaikan hasil jawaban di depan kelas di depan teman-temannya.Selain itu, model ini juga dapat dimodifikasi dengan sedikit permainan di awal pembelajaran.  Model ini mengajak siswa melalui tahap berpikir, perumusan ide atau gagasan, kerja sama, keberanian, menerima pendapat dan masukan teman, menyampaikan gagasan secara lisan, dan revisi dari bapak/ibu guru. Dimana semua kegiatan tersebut dikemas dengan fun.  

       Kartu gambar yang digunakan ada 2 macam, yaitu kartu sebab dan kartu akibat. Kartu dibuat sejumlah siswa. Keadaan kartu tertutup yaitu, gambar ada di dalam, dan tidak terlihat dari luar. Kartu dibuat dari kertas yang sewarna. Contoh gambar sebagai berikut:



kartu 1
kartu 2



kartu 4
   
kartu 3


Langkah pembelajaran inti yaitu:

  1. Tanya jawab dengan guru tentang tanggapan ( pengertian, bentuk-bentuk tanggapan, dan cara penyampaian tanggapan yang baik)
  2. siswa memperhatikan petunjuk pembelajaran yang disampaikan oleh guru.
  3. setiap siswa dibagikan sebuah kartu. 
  4. siswa bersama-sama mebuka kartu yang didapat.
  5. siswa mencermati gambar , dan guru memberi kesempatan bertanya tentang gambar yang didapat, bila siswa sulit memahami gambar. (thinking)
  6. siswa mencari pasangannya. (pairing)
  7. setelah bertemu pasangan, siswa duduk bersama pasangannya, lalu mencermati gambar, dan menentukan tanggapan terhadap peristiwa.
  8. siswa bersama pasangannya maju kedepan kelas menyampaikan pendapat mereka. (diawali mendeskripsikan gambar lalu menyampaikan tanggapannya) (sharing)
  9. pasangan siswa yang belum maju memberikan masukan atas pendapat temannya.
  10. siswa menuangkan gagasan pada kertas yang dibagikan guru (setelah mendapat masukan dari teman, dan guru.

           Kartu bergambar disesuaikan dengan tema pembelajaran. Tidak hanya sebab akibat, tetapi bisa uang dan negara, tokoh pejuangan dan daerahnya, dll. Kalau pada paparan diatas tadi setiap pasangan mendapat peristiwa yang berbeda-beda. Pembelajaran tersebut dapat di seting, dengan semua siswa memberikan tanggapan terhadap sebuah peristiwa yang disampaikan oleh guru. Hanya saja, saat mencari pasangan melalui mencari gambar yang serupa. seperti gambar nangka, ia mencari pasangannya yaitu teman yang mendapatkan kartu bergambar nangka. 





         Sekian dulu share pengalaman mengajar saya. Senantiasa tanggapan (kritik, saran, pendapat, pertanyaan) ditunggu untuk kemajuan ke depannya. 









Sabtu, 19 Mei 2012

Memodifikasi Metode Ceramah dan Tanya Jawab

Guru dan pembelajaran, merupakan sebuah satu kesatuan yang tak terpisahkan. keberhasilan pembelajaran tidak lepas dari andil besar seorang guru. untuk mencapai keberhasilan pembelajaran tentunya  guru harus menciptakan kondisi dan situasi pembelajaran yang menyenangkan dan nyaman tanpa tekanan. dengan kondisi tersebut siswa diharapkan mudah untuk menyerap materi pembelajaran dan tentunya dapat mencapai tujuan pembelajaran saat itu.

ceramah atau tanya jawab? masih perlukah itu untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. berdasarkan yang saya ketahui, tidak semua materi pelajaran dapat dilakukan dengan memberi tugas pada siswa dan guru hanya diam. hal ini sesuai dengan pernyataan siswa aktif guru pasif. Bukan berarti, ceramah dan tanya jawab itu tak efektif. tergantung bagaimana guru melakukan ceramah tersebut dan porsinya (jangan terlalu sering).

Ceramah ekspositori, kalau saya menyebutnya adalah ceramah yang menyenangkan dan membuat antusias. seperti ketika guru bercerita atau menyampaikan sebuah dongeng. gunakan tekanan suara yang berbeda antara tokoh - tokoh yang terdapat pada cerita itu, menggunakan media, diselingi menyanyi, humor, dan penekanan yang jelas pada kata-kata yang penting. gaya ceramah ekspositori sering dipakai oleh pendakwah agama atau para pemotivasi agar pendengar dapat terus memperhatikan dan meresap apa ynag disampaikan.

guru memang bukan seorang pelawak, tetapi untuk menciptakan ceramah ekspositori tidak hanya dengan humor. Selain itu, ada juga trik untuk mengaktifkan siswa, mana kala siswa mulai tak antusias. teriakkan "simonnnnnnnnn berdiri" maka siswa wajib segera berdiri. beri senggang waktu yang agak lama dan ucapkan kembali " meloooooon berdiri" maka siswa tidak boleh berdiri karena perintahnya bukan simon tetapi melon. memang sedikit melencengkan kata.

Setelah saya terapkan di kelas ternyata siswa sangat antusias dan meminta hal tersebut diulang lagi. Bila memang materi mendukung untuk melakukan ceramah ekspositori, silahkan mencoba. 


memodifikasi metode yang kedua yaitu tanya jawab. Metode ini sering saya gunakan dalam pembelajaran. tetapi metode ini saya modifikasi semenjak saya searching di google untuk tugas workshop KKN saya dan saya menemukan  tentang model pembelajran CRH (Course Riview Horay).  Metode pembelajaran ini digunakan untuk mengetes pemahaman siswa menggunakan kotak yang diisi dengan nomor untuk menuliskan jawabannya, yang paling dulu mendapatkan tanda benar langsung berteriak horay.

langkah-langkah yang harus dilakukan yaitu: guru membuat persiapan berupa pertanyaan yang akan disampaikan ke siswa, menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai, menyampaikan materi (bisa dengan ceramah ekspositori atau metode yang lain), siswa disuruh membuat kotak 9 / 16 / 25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan selera masing-masing, Guru membaca soal secara acak dan siswa menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru, kalau benar diisi tanda centang (v) dan salah diisi tanda silang (x), Siswa yang sudah mendapat tanda v vertikal atau horisontal, atau diagonal harus segera berteriak horay atau yel-yel lainnya, dan Nilai siswa dihitung dari jawaban benar dan jumlah horay yang diperoleh.
 metode tersebut dapat dilakukan pada awal pembelajaran, untuk mengetes pemahaman siswa terhadap pelajaran telah dipelajari hari sebelumnya. atau pada akhir pembelajarn nutuk mengetes pemahaman siswa terhadap pelajaran yang baru disampaikan oleh guru. Metode tersebut juga dapat dilakukan secara berkelompok dan individu. motede tersebut juga dapat digunakan untuk soal yang berupa jawaban singkat dan berupa uraian.
Kelebihan yaitu Pembelajarannya menarik mendorong untuk dapat terjun ke dalamnya dan elatih kerjasama bila dilakukan dengan berkelompok (koperatif learning).sedangkan kekurangannya adalah Siswa aktif dan pasif nilainya disamakan dan adanya peluang untuk curang.

Bagaimana modifikasi metode ceramah dan tanya jawab tersebut? semoga berkenan dan bermanfaat.Tanggapan(saran, kritik, pertanyaan, persetujuan tau tidak setuju) silahkan disampaikan. semoga menjadi sempurna kedepannya. amin